Jadi bagaimana kita semua seharusnya mengukur availability sebuah sistem atau aplikasi? Bukankah kita hanya cukup mengukur waktu ketersediaan layanan sistem yang sesungguhnya dibanding dengan ketersediaan yang seharusnya. Right?? 99,9% availability dalam setahun, yang berarti kurang lebih sekitar 9 jam setahun sistem dan atau aplikasi akan non-operasional baik disengaja maupun tidak disengaja.
Well, kita semua setuju angka tersebut akan dijadikan target operasi dari seluruh fungsi yang berada dalam sebuah departemen IT.
Sesederhana itukah kita menentukan angka keramat tersebut? Padahal kita semua tahu dan paham bahwa angka tersebut akan menentukan kualitas kerja dan layanan IT secara keseluruhan terhadap bisnis yang ia layani.
Berikut sedikit panduan dalam menentukan ketersediaan sistem dan aplikasi.
Tentukan tujuan dari penentapan angka ketersediaan. Hal ini jelas harus dilakukan bersama-sama dengan users yang tidak lain adalah bisnis. Tentukan sistem dan aplikasi apa saja, serta layanan secara definitif yang ingin diukur angka ketersediaannya.
Pahami proses bisnis. Sistem dan aplikasi yang diukur mendukung secara penuh maupun parsial satu atau lebih proses bisnis, baik yang kritikal maupun tidak. Pemahaman seperti ini layaknya dimiliki oleh IT, begitu juga dengan perilaku bisnis secara internal maupun pasar secara keseluruhan.
Tentukan matriks pengukuran yang sesuai. Matriks pengukuran angka ketersediaan harus dan selayaknya juga didiskusikan dengan pihak bisnis, karena pada akhirnya merekalah yang akan ikut menilai kinerja IT secara keseluruhan.
Bagaimana data akan dikumpulkan. Ada banyak cara dalam mengukur ketersediaan sistem dan aplikasi. Namun gunakanlah cara yang paling efektif.
Bagaiamana data akan dilaporkan. Ini adalah tahap yang cukup kritikal, kenapa? Karena seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, inilah media ataupun salah satu cara dalam 'memasarkan' departemen IT. Dengan cara seperti apa? Data bisa dilaporkan dalam bentuk grafik relatif terhadap target operasi, memasukkan aspek-aspek historis sehingga mencerminkan peningkatan ataupun penurunan dalam kinerja dan banyak cara lainnya.
Semoga bermanfaat.
Tuesday, June 13, 2006
Wednesday, May 31, 2006
Bisnislah Fokus Dari IT, Bukan Teknologi
Hmm... hari ini ada beberapa artikel dari CIO.com, Computerworld.com dan beberapa lainnya yang mengangkat isu berkaitan dengan apa yang seharusnya jadi fokus pengembangan IT serta skill set yang dibutuhkan dalam membangun kesesuaian antara IT dan bisnis.
Satu hal yang menarik untuk disimpulkan di sini adalah bahwa yang seharusnya menjadi fokus pengembangan IT adalah bisnis itu sendiri, bukan teknologi seperti yang selama ini kita pahami. Bukan pada apakah perusahaan tempat kita bekerja telah memakai teknologi terkini atau belum, tapi justru pada dinamika bisnis dan pasar tempat perusahaan kita berkutat sehari-harinya.
Bisnis sungguh tidak peduli apakah IT telah menggunakan teknologi terbaru atau tidak, atau bahkan masih menggunakan sistem yang sudah 1 dekade umurnya. Selama teknologi itu masih dapat memfasilitasi tercapainya tujuan bisnis, nothing else matters.
Oleh karena itu, dalam memformulasikan rencana pengembangan IT, departemen-departemen bisnis terkait harus juga terlibat untuk menjamin kesesuaian dengan rencana pengembangan bisnis. Dengan kata lain, kepentingan-kepentingan bisnis, seperti visi & misi serta strategi bisnis harus tercermin dalam setiap rencana taktis pengembangan IT.
Begitua pula dengan peran IT Manager maupun CIO, yang semakin lama dipandang semakin kritikal. Dibeberapa tempat, jabatan CIO sering disamakan dengan jabatan Chief Process Officer. Mereka dituntut untuk memahami bisnis secara keseluruhan, dari atas ke bawah, dari sudut ke sudut, dari kanan ke kiri. Mengetahui apa saja permasalah bisnis yang timbul serta dapat memprediksi nya sebelum benar-benar terjadi. Di sinilah peran CIO/IT Manager menjadi penting, karena pengetahuannya serta tuntutan profesinya.
So, again, jadi teringat buku IT Doesn't Matter...
Satu hal yang menarik untuk disimpulkan di sini adalah bahwa yang seharusnya menjadi fokus pengembangan IT adalah bisnis itu sendiri, bukan teknologi seperti yang selama ini kita pahami. Bukan pada apakah perusahaan tempat kita bekerja telah memakai teknologi terkini atau belum, tapi justru pada dinamika bisnis dan pasar tempat perusahaan kita berkutat sehari-harinya.
Bisnis sungguh tidak peduli apakah IT telah menggunakan teknologi terbaru atau tidak, atau bahkan masih menggunakan sistem yang sudah 1 dekade umurnya. Selama teknologi itu masih dapat memfasilitasi tercapainya tujuan bisnis, nothing else matters.
Oleh karena itu, dalam memformulasikan rencana pengembangan IT, departemen-departemen bisnis terkait harus juga terlibat untuk menjamin kesesuaian dengan rencana pengembangan bisnis. Dengan kata lain, kepentingan-kepentingan bisnis, seperti visi & misi serta strategi bisnis harus tercermin dalam setiap rencana taktis pengembangan IT.
Begitua pula dengan peran IT Manager maupun CIO, yang semakin lama dipandang semakin kritikal. Dibeberapa tempat, jabatan CIO sering disamakan dengan jabatan Chief Process Officer. Mereka dituntut untuk memahami bisnis secara keseluruhan, dari atas ke bawah, dari sudut ke sudut, dari kanan ke kiri. Mengetahui apa saja permasalah bisnis yang timbul serta dapat memprediksi nya sebelum benar-benar terjadi. Di sinilah peran CIO/IT Manager menjadi penting, karena pengetahuannya serta tuntutan profesinya.
So, again, jadi teringat buku IT Doesn't Matter...
Monday, May 29, 2006
10 Bigget IT Happennings
Ok, hari ini saya mau sedikit ngomonging sejarah, gak jauh-jauh hanya 20 tahun ke belakang. Artikel ini cukup menarik karena menceritakan 10 perkembangan IT terbesar selama 20 tahun terakhir yang memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya dan kehidupan umat manusia.
Artikel lengkapnya ada di link berikut:
http://www.computerworld.com/action/article.do?command=viewArticleBasic&articleId=111366&pageNumber=1
1. Internet Goes Commercial
Well, apa sih yang nggak di-komersial-in sekarang ini, hehe.
2. Monopoly Musical Chairs
Ini dimulai dari dominasi IBM PC awal tahun 80-an yang isinya ada software milik om Bill. Sampai sekarang, meskipun telah diadili bersalah karena menyalahi UU Anti Monopoli, tetep aja, M$ jalan terus!! Lagian sapa juga yang bisa hidup tanpa Windows, banyak yang udah nyoba, tapi ujung2nya juga Windows lagi...
3. Y2K Problem
Isu ini sudah mulai mencuat pada tahun 1984, namun histeria sesungguhnya dimulai pada tahun 1993, meskipun akhirnya hanya dianggap sebagai sebuah mimpi buruk.
4. The New Foreign Face of Outsourcing
Lou Gerstner pada tahun 1993 mengedepankan strategi perubahan IBM yang pada dasarnya adalah untuk menggenjok jasa layanan outsourcing. Saat ini, Outsourcing di bidang IT menjadi primadona, karena memberikan alternatif bagi banyak usaha untuk fokus pada bisnis yang merupakan kompetensi utamanya.
5. The Rise of Personal Computing
PC, laptops, cellphone, PDA dan lain-lainnya, siapa sih sekarang yang tidak memiliki minimal 2 dari alat-alat 'canggih' itu? Ini merupakan salah satu dimensi penting dari pergerakan komputasi dari mainframe, client/server, multitier sytems, grid dan lain sebagainya.
6. Open-source Rides into Data Centers
Siapa sih yang sekarang ini gak kenal sama Linux-Apache-MySQL?? Hebatnya lagi, software-software open-source tersebut didukung penuh oleh beberapa produsen IT seperti IBM, HP, Oracle dan lain-lainnya.
7. Security: From Nuisance to All-Out Assault
Sebelum tahun 1988, Security hanyalah sebuah remah roti, kecil, tak berarti dan selalu dilupakan. Dulu 'kejahatan' berupa penyebaran virus, worm dan sebagainya hanyalah merupakan sebuah pertunjukkan keahlian orang-orang tertentu yang termotivasi murni oleh tujuan pribadi. Saat ini semua itu sudah berubah menjadi sebuah kejahatan terorganisasi dengan uang sebagai motivasi utamanya. Sound dangerous??
8. The Rise of Client/Server Computing
Meskipun sempat menjadi topik yang sangat hangat pada dekade 80 dan 90-an, serta sempat menjadi arsitektur aplikasi yang sangat populer, ternyata arsitektur ini hanyalah sebuah batu loncatan bagi multitier system. Tapi patut dicatat, arsitektur inilah yang membuat banyak perusahaan memutuskan untuk bermigrasi dari arsitektur mainframe.
9. Elusive Software Quality
Yakinkah kita dengan kualitas dari software yang kita beli?? Tidak seperti membeli hardware yang secara fisik dapat kita amati kualitasnya. Tidak demikian dengan software. Sejak awal dekade 80 hingga saat ini, banyak bermunculan metodologi pengembangan software yang 'gagal' dan 'berhasil'. Namun kita semua tahu bahwa yang dapat kita pastikan kualitasnya adalah model dan pengembangan software-nya.
10. The Geeks go to Business School
Istilah-istilah berikut punya dampak besar dari tren ini; "align IT with the business," "think strategically" dan "get a seat at the business (or boardroom) table". Saat ini, IT Manager juga harus melek terhadap bisnis yang di-support-nya.
Artikel lengkapnya ada di link berikut:
http://www.computerworld.com/action/article.do?command=viewArticleBasic&articleId=111366&pageNumber=1
1. Internet Goes Commercial
Well, apa sih yang nggak di-komersial-in sekarang ini, hehe.
2. Monopoly Musical Chairs
Ini dimulai dari dominasi IBM PC awal tahun 80-an yang isinya ada software milik om Bill. Sampai sekarang, meskipun telah diadili bersalah karena menyalahi UU Anti Monopoli, tetep aja, M$ jalan terus!! Lagian sapa juga yang bisa hidup tanpa Windows, banyak yang udah nyoba, tapi ujung2nya juga Windows lagi...
3. Y2K Problem
Isu ini sudah mulai mencuat pada tahun 1984, namun histeria sesungguhnya dimulai pada tahun 1993, meskipun akhirnya hanya dianggap sebagai sebuah mimpi buruk.
4. The New Foreign Face of Outsourcing
Lou Gerstner pada tahun 1993 mengedepankan strategi perubahan IBM yang pada dasarnya adalah untuk menggenjok jasa layanan outsourcing. Saat ini, Outsourcing di bidang IT menjadi primadona, karena memberikan alternatif bagi banyak usaha untuk fokus pada bisnis yang merupakan kompetensi utamanya.
5. The Rise of Personal Computing
PC, laptops, cellphone, PDA dan lain-lainnya, siapa sih sekarang yang tidak memiliki minimal 2 dari alat-alat 'canggih' itu? Ini merupakan salah satu dimensi penting dari pergerakan komputasi dari mainframe, client/server, multitier sytems, grid dan lain sebagainya.
6. Open-source Rides into Data Centers
Siapa sih yang sekarang ini gak kenal sama Linux-Apache-MySQL?? Hebatnya lagi, software-software open-source tersebut didukung penuh oleh beberapa produsen IT seperti IBM, HP, Oracle dan lain-lainnya.
7. Security: From Nuisance to All-Out Assault
Sebelum tahun 1988, Security hanyalah sebuah remah roti, kecil, tak berarti dan selalu dilupakan. Dulu 'kejahatan' berupa penyebaran virus, worm dan sebagainya hanyalah merupakan sebuah pertunjukkan keahlian orang-orang tertentu yang termotivasi murni oleh tujuan pribadi. Saat ini semua itu sudah berubah menjadi sebuah kejahatan terorganisasi dengan uang sebagai motivasi utamanya. Sound dangerous??
8. The Rise of Client/Server Computing
Meskipun sempat menjadi topik yang sangat hangat pada dekade 80 dan 90-an, serta sempat menjadi arsitektur aplikasi yang sangat populer, ternyata arsitektur ini hanyalah sebuah batu loncatan bagi multitier system. Tapi patut dicatat, arsitektur inilah yang membuat banyak perusahaan memutuskan untuk bermigrasi dari arsitektur mainframe.
9. Elusive Software Quality
Yakinkah kita dengan kualitas dari software yang kita beli?? Tidak seperti membeli hardware yang secara fisik dapat kita amati kualitasnya. Tidak demikian dengan software. Sejak awal dekade 80 hingga saat ini, banyak bermunculan metodologi pengembangan software yang 'gagal' dan 'berhasil'. Namun kita semua tahu bahwa yang dapat kita pastikan kualitasnya adalah model dan pengembangan software-nya.
10. The Geeks go to Business School
Istilah-istilah berikut punya dampak besar dari tren ini; "align IT with the business," "think strategically" dan "get a seat at the business (or boardroom) table". Saat ini, IT Manager juga harus melek terhadap bisnis yang di-support-nya.
Monday, May 15, 2006
They hate us!
Seorang konsultan menulis sebuah artikel beberapa hari lalu di sebuah situs IT Service Management. Judulnya: Why do Business Managers Hate IT?
Well, 'benci' begitu katanya. Jika kita ingat-ingat pepatah, 'tak kenal maka tak sayang', maka
ada satu kesimpulan 'jitu' yang sebetulnya bisa kita ambil. Jawaban dari judul artikel tersebut, sebenarnya sederhana, karena mereka, para manajer bisnis, 'tidak kenal' dengan IT.
Beberapa hal berikut menambah parah 'kebencian' ini:
1. IT sinonim dengan pengeluaran; well, produk-produk IT apa sih yang murah??
2. IT juga terlalu terintegrasi dengan berjalannya proses bisnis sehari-hari, akibatnya value
dari IT menjadi 'samar' dan tidak mudah diidentifikasi.
3. Manajer IT, kebanyakan tidak business-savvy, bahkan cenderung kurang mau tau dengan bisnis perusahaannya.
4. dan beberapa alasan lainnya.
So, kembali dengan masalah 'tak kenal maka tak sayang'.
Bayangkan sebuah managerial meeting, dimana seorang procurement manager sedang mempresentasikan laporan kinerja tahunannya. Terbayang bahwa mereka sedang menayangkan angka-angka untuk mewakili keahliannya mereka dalam menegosiasi harga. Sebuah laporan tipikal dari departemen ini biasanya berupa spreadsheet dengan satu kolom berisi angka retail price dan satu kolom lagi di samping berisi angka riil hasil negosiasi mereka. Dan terakhir pada lajur paling akhir, diketik tebal-tebal, saving yang telah mereka hasilkan untuk perusahaan. Ini semua mewakili kontribusi departemen mereka dalam memaksimalkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dan yang lebih penting adalah, semua manajer departemen lainnya tahu dan paham mengenai apa yang mereka kerjakan dan bagaimana impact-nya ke keseluruhan kinerja perusahaan.
Inilah salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh banyak manajer TI. Mereka harus mampu menunjukkan value-nya serta kontribusi-nya dalam bentuk yang terukur dan yang terpenting, dapat dipahami oleh keseluruhan fungsi-fungsi perusahaan.
Well, again, sounds like marketing to me!!
Salah satu cara terbaik untuk mengatasi permasalahan seperti ini adalah mencoba untuk menerapkan konsep-konsep pemasaran dan IT Service Management. Beberapa langkah penting dalam program seperti ini meliputi:
1. Mendefinisikan 'produk' dari IT yang berupa service.
2. Menyusun daftar dari keseluruhan service yang 'ditawarkan' IT kepada keseluruhan
fungsi-fungsi bisnis lainnya.
3. Menyusun Service Level Agreement, tentunya dengan sepengetahuan para manager departemen lainnya, sebagai tolok ukur kualitas dari service yang disediakan oleh IT.
4. Menyusun laporan serta matriks yang berisi impact dari kinerja IT terhadap kinerja
keseluruhan perusahaan.
5. Menyusun program-program peningkatan kualitas yang tentunya melibatkan para manajer
departemen lainnya.
Perlu diketahui, bahwa menyusun program-program pemasaran serta IT Service Management
memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Namun pada gilirannya, IT akan bisa menerima penghargaan maupun value yang lebih tinggi dari perusahaannya, dan yang penting, royek-proyek IT 'besar' lainnya akan lebih mudah mendapat persetujuan.
Well, we all wish it to come true!
Well, 'benci' begitu katanya. Jika kita ingat-ingat pepatah, 'tak kenal maka tak sayang', maka
ada satu kesimpulan 'jitu' yang sebetulnya bisa kita ambil. Jawaban dari judul artikel tersebut, sebenarnya sederhana, karena mereka, para manajer bisnis, 'tidak kenal' dengan IT.
Beberapa hal berikut menambah parah 'kebencian' ini:
1. IT sinonim dengan pengeluaran; well, produk-produk IT apa sih yang murah??
2. IT juga terlalu terintegrasi dengan berjalannya proses bisnis sehari-hari, akibatnya value
dari IT menjadi 'samar' dan tidak mudah diidentifikasi.
3. Manajer IT, kebanyakan tidak business-savvy, bahkan cenderung kurang mau tau dengan bisnis perusahaannya.
4. dan beberapa alasan lainnya.
So, kembali dengan masalah 'tak kenal maka tak sayang'.
Bayangkan sebuah managerial meeting, dimana seorang procurement manager sedang mempresentasikan laporan kinerja tahunannya. Terbayang bahwa mereka sedang menayangkan angka-angka untuk mewakili keahliannya mereka dalam menegosiasi harga. Sebuah laporan tipikal dari departemen ini biasanya berupa spreadsheet dengan satu kolom berisi angka retail price dan satu kolom lagi di samping berisi angka riil hasil negosiasi mereka. Dan terakhir pada lajur paling akhir, diketik tebal-tebal, saving yang telah mereka hasilkan untuk perusahaan. Ini semua mewakili kontribusi departemen mereka dalam memaksimalkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dan yang lebih penting adalah, semua manajer departemen lainnya tahu dan paham mengenai apa yang mereka kerjakan dan bagaimana impact-nya ke keseluruhan kinerja perusahaan.
Inilah salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh banyak manajer TI. Mereka harus mampu menunjukkan value-nya serta kontribusi-nya dalam bentuk yang terukur dan yang terpenting, dapat dipahami oleh keseluruhan fungsi-fungsi perusahaan.
Well, again, sounds like marketing to me!!
Salah satu cara terbaik untuk mengatasi permasalahan seperti ini adalah mencoba untuk menerapkan konsep-konsep pemasaran dan IT Service Management. Beberapa langkah penting dalam program seperti ini meliputi:
1. Mendefinisikan 'produk' dari IT yang berupa service.
2. Menyusun daftar dari keseluruhan service yang 'ditawarkan' IT kepada keseluruhan
fungsi-fungsi bisnis lainnya.
3. Menyusun Service Level Agreement, tentunya dengan sepengetahuan para manager departemen lainnya, sebagai tolok ukur kualitas dari service yang disediakan oleh IT.
4. Menyusun laporan serta matriks yang berisi impact dari kinerja IT terhadap kinerja
keseluruhan perusahaan.
5. Menyusun program-program peningkatan kualitas yang tentunya melibatkan para manajer
departemen lainnya.
Perlu diketahui, bahwa menyusun program-program pemasaran serta IT Service Management
memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Namun pada gilirannya, IT akan bisa menerima penghargaan maupun value yang lebih tinggi dari perusahaannya, dan yang penting, royek-proyek IT 'besar' lainnya akan lebih mudah mendapat persetujuan.
Well, we all wish it to come true!
Thursday, May 11, 2006
Mau bekerja di Microsoft?
Okay, hari ini saya came across sebuah blog yang menarik. Seorang Software Design Engineer di Microsoft mencoba untuk memberikan perspektif pribadinya mengenai pengalaman kerjanya di Microsoft.
Blog keseluruhan bisa diakses di sini:
http://www.qbrundage.com/michaelb/pubs/essays/working_at_microsoft.html
Secara umum, berikut ringkasannya:
FOKUS
Semua orang yang bekerja di M$ 'tahu' tentang software, bahkan pekerja blue collar pun tahu
tentang software. So, semua staf M$ tahu mengenai misi dan visi perusahaannya. Ini luar biasa!
UNREALITY
M$ menyediakan fasilitas serta dukungan terhadap semua karyawan untuk tetap berada pada tingkat kinerja serta produktivitas. Ini baik, namun hal ini tidak disertai dengan pemahaman bahwa di luar sana, keadaan tidak selalu seperti ini. Begini, produk-produk M$ dibuat dengan
asumsi-asumsi yang kurang realistis. Tidak semua orang punya akses ke internet ber-bandwidth besar, serta tidak semuanya punya uang cukup untuk membeli produk M$. Keistimewaan lingkungan kerja di M$, kemudian membawa stafnya serta produknya menjadi kurang realistis jika dibandingkan dengan kebutuhan serta situasi pengguna serta calon penggunanya.
PERSONAL FREEDOM
Mau masuk kerja siang... mau gak masuk, mau telanjang waktu kerja... well, gak masalah di M$. Asal kerjaan dan target2 elo beres!
COMPANY LEADERSHIP
Bill dan Steve pada umumnya selalu berada yang terdepan, termasuk dalam liputan-liputan media. Tapi perlu diketahui juga, pada kepala divisi M$ ternyata juga orang-orang yang sangat kompeten dalam bidangnya serta memiliki kemampuan leadership yang luar biasa. So, pada aspek ini, M$ is the best!
MANAGERS
Kontras banged dengan para KaDiv. Para manager tingkat menengah kebanyakan tidak memiliki kemampuan leadership yang baik.
BENEFITS/COMPENSATION
Nothing great! Malah banyak terjadi 'pengurangan' di tahun-tahun terakhir ini.
WORK/LIFE BALANCE
It's a software company, and located di Seattle. Di Seattle kebanyakan dihuni oleh orang muda,
serta ambisius yang rata-rata punya masalah dalam bersosialisasi. Tipikal banged dengan orang
TI. Di samping usaha korporasi untuk memperbaiki keseimbangan antara bekerja dengan
berkeluarga, M$ dihadapkan dengan permasalahan bahwa kebanyakan staf nya adalah orang-orang yang punya masalah dengan kehidupan sosialnya.
MICROSOFT IS NOT EVIL
(well folks, you should read the complete blog for this one... no comment!)
INFLUENCE
Mau jadi orang yang penuh percaya diri? well, bekerjalah di M$. Apapun yang dikerjakan oleh
staf M$ setidaknya akan digunakan oleh ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan pengguna.
Well... mau bekerja di M$??
Blog keseluruhan bisa diakses di sini:
http://www.qbrundage.com/michaelb/pubs/essays/working_at_microsoft.html
Secara umum, berikut ringkasannya:
FOKUS
Semua orang yang bekerja di M$ 'tahu' tentang software, bahkan pekerja blue collar pun tahu
tentang software. So, semua staf M$ tahu mengenai misi dan visi perusahaannya. Ini luar biasa!
UNREALITY
M$ menyediakan fasilitas serta dukungan terhadap semua karyawan untuk tetap berada pada tingkat kinerja serta produktivitas. Ini baik, namun hal ini tidak disertai dengan pemahaman bahwa di luar sana, keadaan tidak selalu seperti ini. Begini, produk-produk M$ dibuat dengan
asumsi-asumsi yang kurang realistis. Tidak semua orang punya akses ke internet ber-bandwidth besar, serta tidak semuanya punya uang cukup untuk membeli produk M$. Keistimewaan lingkungan kerja di M$, kemudian membawa stafnya serta produknya menjadi kurang realistis jika dibandingkan dengan kebutuhan serta situasi pengguna serta calon penggunanya.
PERSONAL FREEDOM
Mau masuk kerja siang... mau gak masuk, mau telanjang waktu kerja... well, gak masalah di M$. Asal kerjaan dan target2 elo beres!
COMPANY LEADERSHIP
Bill dan Steve pada umumnya selalu berada yang terdepan, termasuk dalam liputan-liputan media. Tapi perlu diketahui juga, pada kepala divisi M$ ternyata juga orang-orang yang sangat kompeten dalam bidangnya serta memiliki kemampuan leadership yang luar biasa. So, pada aspek ini, M$ is the best!
MANAGERS
Kontras banged dengan para KaDiv. Para manager tingkat menengah kebanyakan tidak memiliki kemampuan leadership yang baik.
BENEFITS/COMPENSATION
Nothing great! Malah banyak terjadi 'pengurangan' di tahun-tahun terakhir ini.
WORK/LIFE BALANCE
It's a software company, and located di Seattle. Di Seattle kebanyakan dihuni oleh orang muda,
serta ambisius yang rata-rata punya masalah dalam bersosialisasi. Tipikal banged dengan orang
TI. Di samping usaha korporasi untuk memperbaiki keseimbangan antara bekerja dengan
berkeluarga, M$ dihadapkan dengan permasalahan bahwa kebanyakan staf nya adalah orang-orang yang punya masalah dengan kehidupan sosialnya.
MICROSOFT IS NOT EVIL
(well folks, you should read the complete blog for this one... no comment!)
INFLUENCE
Mau jadi orang yang penuh percaya diri? well, bekerjalah di M$. Apapun yang dikerjakan oleh
staf M$ setidaknya akan digunakan oleh ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan pengguna.
Well... mau bekerja di M$??
IT Accounting??
Do we really care about this??
Well, masalah administrasi sistem TI sehari-hari saja sudah cukup membuat pusing kepala kita serta mencegah kita untuk bisa pulang ke rumah tepat waktu. Tapi jangan lupa, masih ada hal lain yang bisa membuat kepala kita semakin 'pecah', hahaha!! Apa itu? Apalagi kalau bukan topik dari tulisan ini... IT Accounting.
Mulai dari kata-kata Accounting. Ini terkait erat dengan istilah Accounting Cost yang pada hakekatnya merupakan semua biaya yang memiliki pengaruh terhadap penyusunan General Ledger sebuah perusahaan. Kita semua tahu bahwa biaya yang diperlukan untuk menjamin lancarnya pelayanan TI kepada bisnis semakin meningkat dari tahun ke tahun, akibat adanya penambahan user, penemuan-penemuan teknologi baru serta kompleksitas sistem. Proses perencanaan serta pengendalian biaya-biaya TI juga tidak dilakukan secara komprehensif serta terstruktur di banyak perusahaan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan layanan TI dipandang sebagai sesuatu yang high-cost atau tidak fleksible.
Berikut ini penjelasan secara singkat dan umum mengenai bagaimana membangun sebuah sistem akuntasi dasar yang bisa diterapkan oleh banyak departemen TI untuk mulai mengetahui secara lebih mendalam biaya layanan yang mereka kerjakan sehari-hari dalam mendukung semua kegiatan operasional bisnis.
Untuk dapat memilah-milah, memecah serta mengkategorikan biaya dalam sebuah solusi TI maupun aspek operasionalnya, terlebih dahulu kita harus mengetahui yang namanya Cost Unit, yang adalah sebagai berikut:
1. Hardware costs
2. Software costs
3. People costs
4. Accommodation costs
5. External Service costs (biaya-biaya yang timbul oleh karena satu atau lebih kegiatan operasional TI di-outsource-kan ke pihak luar organisasi)
6. Transfer costs (biaya yang sebenarnya timbul akibat berpindahnya aset dari sebuah bagian organisasi ke bagian lainnya).
Unit-unit di atas kemudian harus dipecah kembali menjadi Cost Elements, misalnya People Cost yang pada umumnya terdiri dari; biaya payroll, overtime staf TI maupun biaya konsultan eksternal. Cost Elements biasanya tersusun dengan sendirinya sesuai dengan karakteristik operasional departemen TI yang bersangkutan. Berikut contoh dari Cost Elements:
1. Hardware costs - Central processing units, LANS, disk storage, peripherals, wide area network, PCs, portables, local servers
2. Software costs - Operating systems, scheduling tools, applications, databases, personal productivity tools, monitoring tools, analysis packages
3. People costs - Payroll costs, benefit cars, re-location costs, expenses, overtime, consultancy
4. Accommodation costs - Offices, storage, secure areas, utilities
5. External Service costs - Security services, Disaster Recovery services, Outsourcing services, HR overhead
6. Transfer costs - Internal charges from other cost centres within the organisation.
Setelah Cost Element disusun dan diidentifikasi, pada umumnya setiap Cost Element akan diklasifikasikan lagi menjadi Capital atau Operational Cost. Capital Cost merupakan biaya yang memiliki pengaruh terhadap keseluruhan nilai dari perusahaan (depresiasi). Biaya-biaya ini mencakup pembelian benda-benda kapital seperti server, software paket, maupun fasilitas gedung untuk sebuah Data Center. Operational Cost merupakan biaya yang diperlukan day-to-day untuk kegiatan operasional sebuah departemen TI, yang misalnya adalah biaya maintenance PC, lisensi software serta akomodasi staf TI.
Terkait dengan layanan TI serta kualitasnya, Cost Element bisa juga diklasifikasikan menjadi Direct atau Indirect Cost. Direct Cost merupakan seluruh biaya yang bisa secara tegas dibebankan kepada satu unit layanan/konsumen tertentu. Misalnya aplikasi keuangan, biaya pembelian lisensi dari aplikasi tersebut jelas-jelas terkait dengan departemen keuangan.
Sedangkan Indirect Cost merupakan biaya pengelolaan TI yang terkait dengan lebih dari satu layanan/konsumen, misalnya aplikasi e-mail korporat, biaya pemeliharaan Data Center dan lain-lainnya. Seperti yang tertulis di atas, kedua biaya ini memiliki peranan besar dalam
menentukan biaya pengelolaan sebuah layanan TI.
Klasifikasi terakhir yang tidak kalah penting adalah Fixed dan Variable Cost. Seperti namanya Fixed Cost merupakan biaya yang tidak berubah meskipun utilisasi berubah-ubah, seperti biaya kontrak pemeliharaan sistem dan biaya sewa gedung Data Center. Variable Cost melibatkan semua biaya yang berubah-ubah sesuai dengan tingkat utilisasinya, misalnya biaya bandwidth jaringan.
Semua biaya di atas penting untuk ditelaah, dengan fokus pada bagaimana sebenarnya menentukan biaya sebuah layanan TI. Dengan mengetahui biaya ini, sebuah perusahaan dapat dengan relatif lebih mudah menentukan nilai sebuah solusi serta kegunaannya melalui perhitungan ROI dan Total Cost of Ownership. Dengan perhitungan ini, pihak manajemen serta departemen TI dapat mencapai sebuah 'kesepakatan' mengenai nilai sebuah calon proyek TI.
So, memang benar... ujung2nya 'bahasa universal' nya adalah uang juga. Hehehe... So, ada baiknya kita orang TI tahu sedikit banyak mengenai proses akunting dan keuangan.
Well, masalah administrasi sistem TI sehari-hari saja sudah cukup membuat pusing kepala kita serta mencegah kita untuk bisa pulang ke rumah tepat waktu. Tapi jangan lupa, masih ada hal lain yang bisa membuat kepala kita semakin 'pecah', hahaha!! Apa itu? Apalagi kalau bukan topik dari tulisan ini... IT Accounting.
Mulai dari kata-kata Accounting. Ini terkait erat dengan istilah Accounting Cost yang pada hakekatnya merupakan semua biaya yang memiliki pengaruh terhadap penyusunan General Ledger sebuah perusahaan. Kita semua tahu bahwa biaya yang diperlukan untuk menjamin lancarnya pelayanan TI kepada bisnis semakin meningkat dari tahun ke tahun, akibat adanya penambahan user, penemuan-penemuan teknologi baru serta kompleksitas sistem. Proses perencanaan serta pengendalian biaya-biaya TI juga tidak dilakukan secara komprehensif serta terstruktur di banyak perusahaan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan layanan TI dipandang sebagai sesuatu yang high-cost atau tidak fleksible.
Berikut ini penjelasan secara singkat dan umum mengenai bagaimana membangun sebuah sistem akuntasi dasar yang bisa diterapkan oleh banyak departemen TI untuk mulai mengetahui secara lebih mendalam biaya layanan yang mereka kerjakan sehari-hari dalam mendukung semua kegiatan operasional bisnis.
Untuk dapat memilah-milah, memecah serta mengkategorikan biaya dalam sebuah solusi TI maupun aspek operasionalnya, terlebih dahulu kita harus mengetahui yang namanya Cost Unit, yang adalah sebagai berikut:
1. Hardware costs
2. Software costs
3. People costs
4. Accommodation costs
5. External Service costs (biaya-biaya yang timbul oleh karena satu atau lebih kegiatan operasional TI di-outsource-kan ke pihak luar organisasi)
6. Transfer costs (biaya yang sebenarnya timbul akibat berpindahnya aset dari sebuah bagian organisasi ke bagian lainnya).
Unit-unit di atas kemudian harus dipecah kembali menjadi Cost Elements, misalnya People Cost yang pada umumnya terdiri dari; biaya payroll, overtime staf TI maupun biaya konsultan eksternal. Cost Elements biasanya tersusun dengan sendirinya sesuai dengan karakteristik operasional departemen TI yang bersangkutan. Berikut contoh dari Cost Elements:
1. Hardware costs - Central processing units, LANS, disk storage, peripherals, wide area network, PCs, portables, local servers
2. Software costs - Operating systems, scheduling tools, applications, databases, personal productivity tools, monitoring tools, analysis packages
3. People costs - Payroll costs, benefit cars, re-location costs, expenses, overtime, consultancy
4. Accommodation costs - Offices, storage, secure areas, utilities
5. External Service costs - Security services, Disaster Recovery services, Outsourcing services, HR overhead
6. Transfer costs - Internal charges from other cost centres within the organisation.
Setelah Cost Element disusun dan diidentifikasi, pada umumnya setiap Cost Element akan diklasifikasikan lagi menjadi Capital atau Operational Cost. Capital Cost merupakan biaya yang memiliki pengaruh terhadap keseluruhan nilai dari perusahaan (depresiasi). Biaya-biaya ini mencakup pembelian benda-benda kapital seperti server, software paket, maupun fasilitas gedung untuk sebuah Data Center. Operational Cost merupakan biaya yang diperlukan day-to-day untuk kegiatan operasional sebuah departemen TI, yang misalnya adalah biaya maintenance PC, lisensi software serta akomodasi staf TI.
Terkait dengan layanan TI serta kualitasnya, Cost Element bisa juga diklasifikasikan menjadi Direct atau Indirect Cost. Direct Cost merupakan seluruh biaya yang bisa secara tegas dibebankan kepada satu unit layanan/konsumen tertentu. Misalnya aplikasi keuangan, biaya pembelian lisensi dari aplikasi tersebut jelas-jelas terkait dengan departemen keuangan.
Sedangkan Indirect Cost merupakan biaya pengelolaan TI yang terkait dengan lebih dari satu layanan/konsumen, misalnya aplikasi e-mail korporat, biaya pemeliharaan Data Center dan lain-lainnya. Seperti yang tertulis di atas, kedua biaya ini memiliki peranan besar dalam
menentukan biaya pengelolaan sebuah layanan TI.
Klasifikasi terakhir yang tidak kalah penting adalah Fixed dan Variable Cost. Seperti namanya Fixed Cost merupakan biaya yang tidak berubah meskipun utilisasi berubah-ubah, seperti biaya kontrak pemeliharaan sistem dan biaya sewa gedung Data Center. Variable Cost melibatkan semua biaya yang berubah-ubah sesuai dengan tingkat utilisasinya, misalnya biaya bandwidth jaringan.
Semua biaya di atas penting untuk ditelaah, dengan fokus pada bagaimana sebenarnya menentukan biaya sebuah layanan TI. Dengan mengetahui biaya ini, sebuah perusahaan dapat dengan relatif lebih mudah menentukan nilai sebuah solusi serta kegunaannya melalui perhitungan ROI dan Total Cost of Ownership. Dengan perhitungan ini, pihak manajemen serta departemen TI dapat mencapai sebuah 'kesepakatan' mengenai nilai sebuah calon proyek TI.
So, memang benar... ujung2nya 'bahasa universal' nya adalah uang juga. Hehehe... So, ada baiknya kita orang TI tahu sedikit banyak mengenai proses akunting dan keuangan.
Tuesday, May 02, 2006
Perang Browser: Marketing Rulez!
Pagi ini ada paper (Economic and Technical Drivers of Technology Choice: Browsers) menarik yang saya baca, mengenai perang browser. Artikel ini bercerita mengenai aspek-aspek apa saja yang diperlukan oleh sebuah produk teknologi untuk dapat menguasai pasar, mengalahkan pesaing, menguasai porsi pasar dan menjadi pemimpin pasar. Penyampaiannya menggunakan contoh perang browser di era 90-an hingga kini. Generalisasi yang suprisingly diterima oleh kebanyakan kalangan akademis di Amerika. IE dan Netscape ditulis oleh penulisnya sebagai contoh terbaik mengenai bagaimana pemasaran dan distribusi memiliki peran yang amat sangat signifikan bagi kesuksesan sebuah produk teknologi.
Paper yang ditulis oleh 2 orang professor HBS dan Stanford ini akhirnya mengambil kesimpulan sebagai berikut:
"Looking at both the pace of adoption of new versions of the browsers and the brand choice made by users, distribution played a larger role than did technical progress in determining the market outcomes."
Browser sangat terkait dengan kemajuan teknologi, namun untuk dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sebagai sebuah teknologi standar, diperlukan aspek lain yaitu distribusi serta pemasarannya. Bahkan aspek yang terakhir ini DUA KALI lebih penting dari kemajuan teknologi sebuah produk browser. Hal ini tercermin dari perang antara IE dan Netscape, dimana Microsoft memperkuat aspek pemasaran dan pendistribusian IE beserta sistem operasinya serta menguatnya pemasaran PC selama medio 90-an.
Then what about Firefox??
Well, browser yang sedang naik daun ini setidaknya memerlukan 'keajaiban' untuk benar-benar bisa mengambil alih posisi sebagai pemimpin. Beberapa barrier yang perlu dihadapi oleh Firefox antara lain:
Pertama, browser ini terkenal dan dikenal hanya oleh pengguna tech-savvy, bukan pengguna biasa, yang jelas menjadi sasaran pasar rumah tangga.
Kedua, di kalangan korporat, tidak banyak IT Manager yang mau mengambil resiko dengan mengganti browser standar mereka selain IE. Why? Alasan yang terbesar adalah sebagian besar situs web dirancang dan dioptimalkan untuk dibuka oleh IE.
Ketiga, butuh aspek inovasi yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh Microsoft dengan IE-nya atau perlu sederet masalah yang luar biasa yang dialami IE.
Keempat, dan yang terpenting adalah WEBMASTER. Merekalah barrier utama Firefox untuk dapat mengambil porsi pasar yang lebih besar.
Informasi ini menarik, karena apa? Karena ternyata kita sebagai techie, akhirnya harus mengakui betapa besarnya andil serta penghargaan kepada para marketer dalam sebuah organisasi. Well, this paper proves it all.
Paper yang ditulis oleh 2 orang professor HBS dan Stanford ini akhirnya mengambil kesimpulan sebagai berikut:
"Looking at both the pace of adoption of new versions of the browsers and the brand choice made by users, distribution played a larger role than did technical progress in determining the market outcomes."
Browser sangat terkait dengan kemajuan teknologi, namun untuk dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sebagai sebuah teknologi standar, diperlukan aspek lain yaitu distribusi serta pemasarannya. Bahkan aspek yang terakhir ini DUA KALI lebih penting dari kemajuan teknologi sebuah produk browser. Hal ini tercermin dari perang antara IE dan Netscape, dimana Microsoft memperkuat aspek pemasaran dan pendistribusian IE beserta sistem operasinya serta menguatnya pemasaran PC selama medio 90-an.
Then what about Firefox??
Well, browser yang sedang naik daun ini setidaknya memerlukan 'keajaiban' untuk benar-benar bisa mengambil alih posisi sebagai pemimpin. Beberapa barrier yang perlu dihadapi oleh Firefox antara lain:
Pertama, browser ini terkenal dan dikenal hanya oleh pengguna tech-savvy, bukan pengguna biasa, yang jelas menjadi sasaran pasar rumah tangga.
Kedua, di kalangan korporat, tidak banyak IT Manager yang mau mengambil resiko dengan mengganti browser standar mereka selain IE. Why? Alasan yang terbesar adalah sebagian besar situs web dirancang dan dioptimalkan untuk dibuka oleh IE.
Ketiga, butuh aspek inovasi yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh Microsoft dengan IE-nya atau perlu sederet masalah yang luar biasa yang dialami IE.
Keempat, dan yang terpenting adalah WEBMASTER. Merekalah barrier utama Firefox untuk dapat mengambil porsi pasar yang lebih besar.
Informasi ini menarik, karena apa? Karena ternyata kita sebagai techie, akhirnya harus mengakui betapa besarnya andil serta penghargaan kepada para marketer dalam sebuah organisasi. Well, this paper proves it all.
Thursday, April 27, 2006
Cukupkah dengan Teknologi??
Bayangkan sebuah kejadian berikut. Seorang karyawan di sebuah perusahaan ternama di Indonesia 'mengirimkan' file excel yang berisi rekap daftar gaji semua karyawan yang bekerja di kantor pusat perusahaan tersebut ke seluruh karyawan yang memiliki e-mail account korporasi. Kita semua bisa membayangkan betapa suasana kerja di perusahaan tersebut menjadi sangat terganggu dengan tersebar file konfidensial tersebut. Parahnya, dengan segala usaha pengamanan yang telah dilakukan baik oleh staf TI internal maupun kontraktor eksternal, kejadian tersebut terulang kembali tepat sebulan kemudian. Masih dikirim oleh karyawan yang sama, isi e-mail yang sama pula dan attachment yang tidak berubah.
Bisa kita bayangkan, bahkan dengan firewall sebanyak 3 lapis, dengan merek yang berbeda sekalipun tidak akan mampu mencegah kejadian seperti ini. Secanggih apapun mekanisme teknis security yang sebuah perusahaan terapkan, tidak akan ada artinya apa pun jika salah seorang karyawannya dengan senang hati memberikan akses berupa username dan password nya kepada orang lain yang memiliki niat jahat.
Kejadian di atas membuktikan bahwa resiko keamanan yang berasal dari perilaku staf dan karyawan memiliki nilai yang teramat signifikan. Perilaku mereka bisa berasal dari ketidaktahuan mereka mengenai kebijakan-kebijakan security serta nilai strategi dari informasi konfidensial milik perusahaannya. Namun bisa juga, mereka merupakan korban dari sebuah 'penipuan' hasil dari rekayasa sosial.
Sebuah artikel di Computerworld menulis:
"Recent findings from the Computing Technology Industry Association might convince you otherwise. In this year's CompTIA information security study, 59% of the organizations surveyed indicated that their latest security breaches were the result of human error alone. That's up from 47% last year."
They say, people - process - technology!
Pendekatan penerapan information security seharusnya mengintegrasikan ketiga aspek di atas, manusia, proses/prosedur serta teknologi. Seperti gambaran di atas, penerapan teknologi secanggih apapun tidak akan mampu mengatasi kesalahan maupun ketidaktahuan manusia yang terlibat di dalamnya. Begitu pula dengan proses/prosedur. Mutlak harus ada dukungan secara tertulis dari pihak manajemen organisasi dan perusahaan, kerangka kerja security yang terpadu di dalam organisasi, prosedur penerapan security serta sangsi-sangsi terkait.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CIO Magazine pada 2003, memperlihatkan fakta yang cukup menarik untuk dikaji. Pada setiap $100 bujet IT perusahaan-perusahaan yang terlibat survey, terdapat $8,4 untuk pengeluaran IT security, dimana 42% nya adalah pengeluaran untuk teknologi. Tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana dengan sisa persentasenya, namun artikel tersebut menulis bahwa pengeluaran untuk teknologi adalah bagian terbesar. Meskipun demikian CompTIA menujukkan data bahwa kecenderungan gangguan security meningkat tajam untuk insiden-insiden yang terkait degnan kesalahan manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa aspek manusia, proses/prosedur dan teknologi adalah 3 aspek yang tidak boleh dipandang sebagian saja. Ketiganya harus terintegrasi melalui penerapan teknologi, pelatihan sumber daya manusia, penyusunan kebijakan dan prosedur serta yang tidak kalah penting adalah mengenal aspek security dari sumber daya perusahaan berupa data dan informasi.
Bisa kita bayangkan, bahkan dengan firewall sebanyak 3 lapis, dengan merek yang berbeda sekalipun tidak akan mampu mencegah kejadian seperti ini. Secanggih apapun mekanisme teknis security yang sebuah perusahaan terapkan, tidak akan ada artinya apa pun jika salah seorang karyawannya dengan senang hati memberikan akses berupa username dan password nya kepada orang lain yang memiliki niat jahat.
Kejadian di atas membuktikan bahwa resiko keamanan yang berasal dari perilaku staf dan karyawan memiliki nilai yang teramat signifikan. Perilaku mereka bisa berasal dari ketidaktahuan mereka mengenai kebijakan-kebijakan security serta nilai strategi dari informasi konfidensial milik perusahaannya. Namun bisa juga, mereka merupakan korban dari sebuah 'penipuan' hasil dari rekayasa sosial.
Sebuah artikel di Computerworld menulis:
"Recent findings from the Computing Technology Industry Association might convince you otherwise. In this year's CompTIA information security study, 59% of the organizations surveyed indicated that their latest security breaches were the result of human error alone. That's up from 47% last year."
They say, people - process - technology!
Pendekatan penerapan information security seharusnya mengintegrasikan ketiga aspek di atas, manusia, proses/prosedur serta teknologi. Seperti gambaran di atas, penerapan teknologi secanggih apapun tidak akan mampu mengatasi kesalahan maupun ketidaktahuan manusia yang terlibat di dalamnya. Begitu pula dengan proses/prosedur. Mutlak harus ada dukungan secara tertulis dari pihak manajemen organisasi dan perusahaan, kerangka kerja security yang terpadu di dalam organisasi, prosedur penerapan security serta sangsi-sangsi terkait.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CIO Magazine pada 2003, memperlihatkan fakta yang cukup menarik untuk dikaji. Pada setiap $100 bujet IT perusahaan-perusahaan yang terlibat survey, terdapat $8,4 untuk pengeluaran IT security, dimana 42% nya adalah pengeluaran untuk teknologi. Tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana dengan sisa persentasenya, namun artikel tersebut menulis bahwa pengeluaran untuk teknologi adalah bagian terbesar. Meskipun demikian CompTIA menujukkan data bahwa kecenderungan gangguan security meningkat tajam untuk insiden-insiden yang terkait degnan kesalahan manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa aspek manusia, proses/prosedur dan teknologi adalah 3 aspek yang tidak boleh dipandang sebagian saja. Ketiganya harus terintegrasi melalui penerapan teknologi, pelatihan sumber daya manusia, penyusunan kebijakan dan prosedur serta yang tidak kalah penting adalah mengenal aspek security dari sumber daya perusahaan berupa data dan informasi.
Thursday, April 20, 2006
IT Strategic/Master/Detail Plan
Well, today I attended one of our client's IT Detail Plan Project Kick-off Meeting. Klien yang satu ini sebetulnya sedikit istimewa, melihat kelengkapan IT Plan mereka. Sebut saja, mereka punya yang namanya IT Strategic Plan, mereka juga punya IT Master Plan dan sekarang mereka sedang menyusun IT Detail Plan mereka. Kalau mau dibilang, kondisi ini ideal sekali. They are all there, whether they are sufficiently enough in providing guidance in IT development or not, well we will not discuss them in here.
So, secara singkat apa saja deskripsi dari dokumen-dokumen tersebut.
IT Strategic Plan - ITSP, seperti namanya berisi mengenai strategi pengembangan IT pada level strategis. Pada bagaimana sebuah perusahaan akan mendayagunakan IT sebagai pendukung perusahaan mencapai visi dan misi organisasi mereka. Ada 3 hal utama yang biasanya menjadi bagian dari dokumen ini, yaitu: IS/IT management strategy, business IS strategies dan IT strategy. IS/IT management strategy secara khusus berkutat dalam pembahasan elemen-elemen strategi apa saja yang menjadi hal umum yang dapat diaplikasikan dalam sebuah organisasi, serta memastikan konsistensinya. Business IS strategies, secara umum menjelaskan pada bagaimana setiap unit fungsional organsisasi akan menggunakan IT sebagai salah satu pendukung utama pencapaian target bisnis mereka. Dan IT Strategy menjelaskan kebijakan-kebijakan serta strategi umum pengelolaan dan manajemen sumber daya teknologi. Satu hal yang menjadi ciri khas dari ITSP ini adalah jangka waktu penerapannya antara 8-10 tahun ke depan. Dan dokumen ini adalah dokumen bisnis, bukan dokumen IT.
IT Master Plan - ITMP, dokumen ini memiliki jangka waktu penerapan antara 3-5 tahun. Dan dokumen ini secara umum adalah dokumen IT, meskipun masih mengandung banyak aspek-aspek bisnis. Isi dari dokumen ini secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konteks bisnis IT - secara umum pemandangan aspek bisnis dari IT sebuah organisasi
2. Proses-proses bisnis - menjelaskan dan membandingkan best practice dalam industri terkait dengan proses-proses bisnis yang telah ada.
3. Application architecture - menjelaskan secara detail penggunaan aplikasi dalam setiap proses bisnis.
4. Technical & Infrastructure Architecture - menjelaskan secara detail strategi penggunaan arsitektur IT sebagai infrastruktur pendukung operasi bisnis.
5. High Level Spending Plan - apa yang dilakukan organisasi lain sejenis terhadap budget pengembangan IT mereka dan apa yang bisa dilakukan oleh organisasi terkait.
6. IT Organization - strategi pengembangan organisasi IT
Beberapa tema lain pendukung lain yang biasanya disertakan mencakup, IT Audit, IT Governance, IT Security dan IT Process.
IT Detail Plan - ITDP, tidak seperti 2 dokumen sebelumnya, dokumen ini fokus pada action plans, rencana pengembangan IT dalam 1-2 tahun mendatang. Dokumen ini mutlak masih dalam framework pengembangan yang telah diarahkan secara detail dalam ITMP maupun ITSP. ITDP pada umumnya berisi banyak business case dalam bentuk overview serta penjelasan mendetail mengenai strategi pengembangan yang terkait dengan business case tersebut.
Kembali ke klien yang pada awal tulisan saya terangkan, mereka bermaksud menyusun action plan hingga maksimum 3 tahun ke depan rencana pengembangan IT mereka. Dan karena cakupan serta unis bisnis mereka yang nasional, ITDP ini menjadi vital. Juga karena adanya bantuan dana dalam salah satu lembaga pemerintah Amerika.
Mau tau lebih lanjut mengenai metodologi penyusunan ketiga dokumen tersebut? Well ada beberapa buku akademis yang selama ini menjadi panduan, yaitu:
1. Anita Casidy - A Practical Guide to Information Systems Strategic Planning
2. John Ward & Joe Peppard - Strategic Planning for Infomation Systems.
Di kedua buku tersebut tidak ada pemisahan secara explisit dari ITSP - ITMP - ITDP, tetapi metodologi yang digunakan dalam kedua buku tersebut sangat solid dalam membantu kita memahami bagaimana dokumen-dokumen tersebut disusun. Pemisahan itu terjadi karena sangat ideal jika dipandang dari aspek implementasi.
Semoga membantu.
So, secara singkat apa saja deskripsi dari dokumen-dokumen tersebut.
IT Strategic Plan - ITSP, seperti namanya berisi mengenai strategi pengembangan IT pada level strategis. Pada bagaimana sebuah perusahaan akan mendayagunakan IT sebagai pendukung perusahaan mencapai visi dan misi organisasi mereka. Ada 3 hal utama yang biasanya menjadi bagian dari dokumen ini, yaitu: IS/IT management strategy, business IS strategies dan IT strategy. IS/IT management strategy secara khusus berkutat dalam pembahasan elemen-elemen strategi apa saja yang menjadi hal umum yang dapat diaplikasikan dalam sebuah organisasi, serta memastikan konsistensinya. Business IS strategies, secara umum menjelaskan pada bagaimana setiap unit fungsional organsisasi akan menggunakan IT sebagai salah satu pendukung utama pencapaian target bisnis mereka. Dan IT Strategy menjelaskan kebijakan-kebijakan serta strategi umum pengelolaan dan manajemen sumber daya teknologi. Satu hal yang menjadi ciri khas dari ITSP ini adalah jangka waktu penerapannya antara 8-10 tahun ke depan. Dan dokumen ini adalah dokumen bisnis, bukan dokumen IT.
IT Master Plan - ITMP, dokumen ini memiliki jangka waktu penerapan antara 3-5 tahun. Dan dokumen ini secara umum adalah dokumen IT, meskipun masih mengandung banyak aspek-aspek bisnis. Isi dari dokumen ini secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konteks bisnis IT - secara umum pemandangan aspek bisnis dari IT sebuah organisasi
2. Proses-proses bisnis - menjelaskan dan membandingkan best practice dalam industri terkait dengan proses-proses bisnis yang telah ada.
3. Application architecture - menjelaskan secara detail penggunaan aplikasi dalam setiap proses bisnis.
4. Technical & Infrastructure Architecture - menjelaskan secara detail strategi penggunaan arsitektur IT sebagai infrastruktur pendukung operasi bisnis.
5. High Level Spending Plan - apa yang dilakukan organisasi lain sejenis terhadap budget pengembangan IT mereka dan apa yang bisa dilakukan oleh organisasi terkait.
6. IT Organization - strategi pengembangan organisasi IT
Beberapa tema lain pendukung lain yang biasanya disertakan mencakup, IT Audit, IT Governance, IT Security dan IT Process.
IT Detail Plan - ITDP, tidak seperti 2 dokumen sebelumnya, dokumen ini fokus pada action plans, rencana pengembangan IT dalam 1-2 tahun mendatang. Dokumen ini mutlak masih dalam framework pengembangan yang telah diarahkan secara detail dalam ITMP maupun ITSP. ITDP pada umumnya berisi banyak business case dalam bentuk overview serta penjelasan mendetail mengenai strategi pengembangan yang terkait dengan business case tersebut.
Kembali ke klien yang pada awal tulisan saya terangkan, mereka bermaksud menyusun action plan hingga maksimum 3 tahun ke depan rencana pengembangan IT mereka. Dan karena cakupan serta unis bisnis mereka yang nasional, ITDP ini menjadi vital. Juga karena adanya bantuan dana dalam salah satu lembaga pemerintah Amerika.
Mau tau lebih lanjut mengenai metodologi penyusunan ketiga dokumen tersebut? Well ada beberapa buku akademis yang selama ini menjadi panduan, yaitu:
1. Anita Casidy - A Practical Guide to Information Systems Strategic Planning
2. John Ward & Joe Peppard - Strategic Planning for Infomation Systems.
Di kedua buku tersebut tidak ada pemisahan secara explisit dari ITSP - ITMP - ITDP, tetapi metodologi yang digunakan dalam kedua buku tersebut sangat solid dalam membantu kita memahami bagaimana dokumen-dokumen tersebut disusun. Pemisahan itu terjadi karena sangat ideal jika dipandang dari aspek implementasi.
Semoga membantu.
Monday, April 17, 2006
Case for Change
Kali ini saya ingin sedikit menulis mengenai, mengapa sebuah departemen TI harus berubah. Berubah tentunya untuk menjadi lebih baik, dan karena biasanya departemen TI itu merupakan bagian dari sebuah organisasi yang lebih besar dengan aktivitas utama adalah TI itu sendiri atau non-TI. Maka departemen TI tersebut harus berubah menjadi lebih baik dalam hal memberikan dukungan teknologi terhadap bisnis/aktivitas organisasi atau berubah menjadi mitra bagi organisasi dalam menjalankan bisnis/aktivitas mereka.
Di sini terlihat bahwa peran departemen TI terbentang dari sekedar hanya memberikan dukungan teknis untuk hardware dan software komputasi di sebuah organisasi, hingga menjadi 'business enabler' penting bagi organisasi tempatnya berada. Ambil contoh sebuah usaha rumah makan, di organisasi tersebut jelas bahwa, komputer biasanya digunakan untuk mencatat penjualan, kerusakan pada komputer tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap berjalannya proses bisnis rumah makan. Namun apa yang terjadi jika sistem core-banking sebuah bank nasional terganggu operasional selama 4 jam?
So, back to the topic! Why change? Berikut adalah beberapa hal yang saat ini dialami oleh banyak organisasi TI.
Pertama adalah Change itu sendiri. Permintaan pasar yang berubah, tentunya akan punya pengaruh bisnis yang signikan bagi organisasi, peningkatan permintaan, munculnya diferensiasi, penambahan portofolio bisnis dan lain-lainnya tentunya akan menambah volume operasi bisnis yang diperlukan untuk mendukung operasi. TI sebagai mitra bisnis serta pendukung operasi bisnis organisasi pun mau tak mau harus meningkatkan volume operasinya. Penambahan sumber daya mutlak harus dilakukan, diimplementasikan dan yang terpenting adalah terencana dengan baik, sehingga kualitas layanan TI terhadap bisnis tetap terjaga pada tingkat yang telah disetujui baik antara bisnis dan TI.
Kedua adalah Compliance. Kesesuaian operasi bisnis maupun TI terhadap peraturan-peraturan pemerintah, bursa saham, best-practice dan sebagainya, menuntut departemen TI untuk terus menerus menyesuaikan diri pada sebuah standar operasi yang telah ditentukan.
Ketiga adalah Complexity. Apa hubungan antara perubahan dengan kompleksitas dalam hal ini? Kita semua tahu, bahwa di luar sana ada 1001 vendor teknologi yang menawarkan berbagai macam solusi, baik hardware dan software, belum lagi standar teknologi yang berbeda-beda. Banyak departemen TI yang kemudian secara tidak sadar membeli dan menggunakan teknologi yang tidak kompatible satu dengan yang lainnya hanya demi sebuah alasan yaitu operasional. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah aplikasi, dimana pemilik aplikasi biasanya berbeda departemen, dan perbedaan itu menimbulkan masalah dengan tidak terintegrasinya aplikasi.
Terakhir adalah Cost. Duit, duit dan duit. Apakah budget TI anda setiap tahun meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan bisnis organisasi? Belum tentu. Manajer TI harus pandai dan cerdik dalam memanfaatkan teknologi sesuai dengan budget yang telah ditentukan oleh organisasi, serta memaksimalkan benefitnya.
Keempat hal di atas merupakan sekelumit beban yang menyebabkan banyak departemen TI dituntut untuk terus berubah.
Di sini terlihat bahwa peran departemen TI terbentang dari sekedar hanya memberikan dukungan teknis untuk hardware dan software komputasi di sebuah organisasi, hingga menjadi 'business enabler' penting bagi organisasi tempatnya berada. Ambil contoh sebuah usaha rumah makan, di organisasi tersebut jelas bahwa, komputer biasanya digunakan untuk mencatat penjualan, kerusakan pada komputer tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap berjalannya proses bisnis rumah makan. Namun apa yang terjadi jika sistem core-banking sebuah bank nasional terganggu operasional selama 4 jam?
So, back to the topic! Why change? Berikut adalah beberapa hal yang saat ini dialami oleh banyak organisasi TI.
Pertama adalah Change itu sendiri. Permintaan pasar yang berubah, tentunya akan punya pengaruh bisnis yang signikan bagi organisasi, peningkatan permintaan, munculnya diferensiasi, penambahan portofolio bisnis dan lain-lainnya tentunya akan menambah volume operasi bisnis yang diperlukan untuk mendukung operasi. TI sebagai mitra bisnis serta pendukung operasi bisnis organisasi pun mau tak mau harus meningkatkan volume operasinya. Penambahan sumber daya mutlak harus dilakukan, diimplementasikan dan yang terpenting adalah terencana dengan baik, sehingga kualitas layanan TI terhadap bisnis tetap terjaga pada tingkat yang telah disetujui baik antara bisnis dan TI.
Kedua adalah Compliance. Kesesuaian operasi bisnis maupun TI terhadap peraturan-peraturan pemerintah, bursa saham, best-practice dan sebagainya, menuntut departemen TI untuk terus menerus menyesuaikan diri pada sebuah standar operasi yang telah ditentukan.
Ketiga adalah Complexity. Apa hubungan antara perubahan dengan kompleksitas dalam hal ini? Kita semua tahu, bahwa di luar sana ada 1001 vendor teknologi yang menawarkan berbagai macam solusi, baik hardware dan software, belum lagi standar teknologi yang berbeda-beda. Banyak departemen TI yang kemudian secara tidak sadar membeli dan menggunakan teknologi yang tidak kompatible satu dengan yang lainnya hanya demi sebuah alasan yaitu operasional. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah aplikasi, dimana pemilik aplikasi biasanya berbeda departemen, dan perbedaan itu menimbulkan masalah dengan tidak terintegrasinya aplikasi.
Terakhir adalah Cost. Duit, duit dan duit. Apakah budget TI anda setiap tahun meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan bisnis organisasi? Belum tentu. Manajer TI harus pandai dan cerdik dalam memanfaatkan teknologi sesuai dengan budget yang telah ditentukan oleh organisasi, serta memaksimalkan benefitnya.
Keempat hal di atas merupakan sekelumit beban yang menyebabkan banyak departemen TI dituntut untuk terus berubah.
3C Dalam IT Change Management
IT change management (ITCM) merupakan salah satu proses operasional dalam IT infrastructure library (ITIL). Tujuan utama proses ini adalah memastikan stabilitas sistem informasi dalam memberikan layanan kepada bisnis pada tingkat kualitas tertentu, jika sebuah perubahan, baik konfigurasi, aplikasi dan sebagainya diimplementasikan ke dalam sistem. Di sini, perubahan selalu dipandang sebagai 'gangguan' terhadap stabilitas sistem, karena perubahan memiliki potensi negatif, yaitu merusak kinerja sistem yang pada gilirannya akan mengganggu berjalannya proses operasional bisnis.
ITCM mencakup kegiatan-kegiatan pengusulan perubahan (Request for Change - RfC), akibat adanya gangguan atau kerusakan dalam sistem, perubahan kebutuhan bisnis yang mempengaruhi operasi dukungan sistem informasi, 'update' perangkat dan infrastruktur teknologi dan beberapa sebab lainnya. RfC biasanya disusun secara mendalam dengan mengikutsertakan hasil analisa resiko yang mungkin timbul akibat implementasi perubahan, serta dukungan berupa approval dari pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak ini biasanya dilembagakan dalam sebuah forum dengan nama Change Advisory Board - CAB. RfC untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam rencana aksi, baik rencana perubahan konfigurasi kecil, hingga sebuah proyek dengan durasi yang panjang.
Sounds easy? Yeah, you wish!!
Gambaran di atas bisa berlangsung dengan mudah jika perubahan yang diajukan tidak kritikal serta tidak mencakup perubahan konfigurasi yang besar. Katakanlah, sebuah sistem core banking, dimana sistem operasi tempat sistem tersebut berjalan harus mengalami update. Maka akan banyak sekali pertimbangan serta tindakan pencegahan yang harus dipersiapkan terlebih dahulu, termasuk di dalamnya menganalisa obyek update yang akan diimplementasikan dalam sebuah testing environment.
Banyak dokumen saat ini bisa dijadikan panduan mengenai bagaimana idealnya menerapkan ITCM di sebuah organisasi IT, ITIL sendiri sudah menyiapkan beberapa operational best practices, lebih jauh lagi ada beberapa vendor teknologi seperti Microsoft yang menyediakan serta menjelaskan proses implementasi ITCM dengan secara mendetail. Namun, ada beberapa hal non-teknis dari ITCM ini yang perlu dicermati, yaitu kesadaran kita bahwa ITCM merupakan subset dari ilmu Change Management yang ruang lingkupnya lebih luas.
Culture, Controls dan Credibility, merupakan aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan oleh ITCM sekalipun, untuk menjamin pengimplementasian change management secara menyeluruh di sebuah lingkungan organisasi.
Culture - lain organisasi, lain pula budaya perubahannya serta penanganan perubahan. Aspek-aspek berikut patut untuk dicermati. Pertama; top/senior manajemen harus mampu membuat standar perilaku yang patuh bagi keseluruhan organisasi, dengan ditopang oleh proses komunikasi yang efektif. Kedua; kebijakan serta prosedur harus selalu dipatuhi dan diikuti, disertai dengan mekanisme enforcement yang sepadan. Ketiga; setiap organisasi harus terbiasa dengan proses analisa resiko, dimana setiap perubahan harus dianalisa dan dicermati akibatnya, baik positif maupun negatif, terhadap keseluruhan proses operasi organisasi. Keempat; kelancaran dalam komunikasi serta kolaborasi yang intim pada semua anggota, dan bagian dari organisasi, sehingga datangnya perubahan dapat terlebih dahulu diprediksi dan disikapi dengan pantas. Kelima; fokus pada process, people dan technology, dimana perubahan merupakan gabungan yang rumit dari interaksi ketiga aspek di atas.
Controls - controls terkait erat dengan proses preventive, detective dan corrective. Perubahan membawa efek bukan hanya positif bagi organisasi, namun perubahan terhadap sistem informasi bisa berdampat buruk bagi keseluruhan proses bisnis, jika perubahan tersebut tidak melalui proses evaluasi, perencanaan, pengembangan dan implementasi yang sesuai. Ketiga proses di atas memainkan peran yang penting bagi organisasi yang telah terlebih dahulu mengidentifikasi resiko atau impact negatif apa saja yang mungkin timbul.
Credibility - ini berkaitan dengan kualitas dari sebuah organisasi dalam mengimplementasikan serta menghadapi berbagai perubahan. Organisasi yang memiliki kredibilitas tinggi, akan selalu berusaha melindungi bisnisnya dari ancaman resiko yang negatif dan merusak, begitu pula dengan keberadaan kebijakan serta prosedur ITCM yang memadai.
Secara singkat, ketiga hal di atas (3C) merupakan hal-hal non-teknis yang harus selalu dicermati oleh para IT Manager dalam mengimplementasikan ITCM serta kegiatan lainnya yang mendukung seperti IT Risk Management, Configuration Management dan Release Management.
ITCM mencakup kegiatan-kegiatan pengusulan perubahan (Request for Change - RfC), akibat adanya gangguan atau kerusakan dalam sistem, perubahan kebutuhan bisnis yang mempengaruhi operasi dukungan sistem informasi, 'update' perangkat dan infrastruktur teknologi dan beberapa sebab lainnya. RfC biasanya disusun secara mendalam dengan mengikutsertakan hasil analisa resiko yang mungkin timbul akibat implementasi perubahan, serta dukungan berupa approval dari pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak ini biasanya dilembagakan dalam sebuah forum dengan nama Change Advisory Board - CAB. RfC untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam rencana aksi, baik rencana perubahan konfigurasi kecil, hingga sebuah proyek dengan durasi yang panjang.
Sounds easy? Yeah, you wish!!
Gambaran di atas bisa berlangsung dengan mudah jika perubahan yang diajukan tidak kritikal serta tidak mencakup perubahan konfigurasi yang besar. Katakanlah, sebuah sistem core banking, dimana sistem operasi tempat sistem tersebut berjalan harus mengalami update. Maka akan banyak sekali pertimbangan serta tindakan pencegahan yang harus dipersiapkan terlebih dahulu, termasuk di dalamnya menganalisa obyek update yang akan diimplementasikan dalam sebuah testing environment.
Banyak dokumen saat ini bisa dijadikan panduan mengenai bagaimana idealnya menerapkan ITCM di sebuah organisasi IT, ITIL sendiri sudah menyiapkan beberapa operational best practices, lebih jauh lagi ada beberapa vendor teknologi seperti Microsoft yang menyediakan serta menjelaskan proses implementasi ITCM dengan secara mendetail. Namun, ada beberapa hal non-teknis dari ITCM ini yang perlu dicermati, yaitu kesadaran kita bahwa ITCM merupakan subset dari ilmu Change Management yang ruang lingkupnya lebih luas.
Culture, Controls dan Credibility, merupakan aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan oleh ITCM sekalipun, untuk menjamin pengimplementasian change management secara menyeluruh di sebuah lingkungan organisasi.
Culture - lain organisasi, lain pula budaya perubahannya serta penanganan perubahan. Aspek-aspek berikut patut untuk dicermati. Pertama; top/senior manajemen harus mampu membuat standar perilaku yang patuh bagi keseluruhan organisasi, dengan ditopang oleh proses komunikasi yang efektif. Kedua; kebijakan serta prosedur harus selalu dipatuhi dan diikuti, disertai dengan mekanisme enforcement yang sepadan. Ketiga; setiap organisasi harus terbiasa dengan proses analisa resiko, dimana setiap perubahan harus dianalisa dan dicermati akibatnya, baik positif maupun negatif, terhadap keseluruhan proses operasi organisasi. Keempat; kelancaran dalam komunikasi serta kolaborasi yang intim pada semua anggota, dan bagian dari organisasi, sehingga datangnya perubahan dapat terlebih dahulu diprediksi dan disikapi dengan pantas. Kelima; fokus pada process, people dan technology, dimana perubahan merupakan gabungan yang rumit dari interaksi ketiga aspek di atas.
Controls - controls terkait erat dengan proses preventive, detective dan corrective. Perubahan membawa efek bukan hanya positif bagi organisasi, namun perubahan terhadap sistem informasi bisa berdampat buruk bagi keseluruhan proses bisnis, jika perubahan tersebut tidak melalui proses evaluasi, perencanaan, pengembangan dan implementasi yang sesuai. Ketiga proses di atas memainkan peran yang penting bagi organisasi yang telah terlebih dahulu mengidentifikasi resiko atau impact negatif apa saja yang mungkin timbul.
Credibility - ini berkaitan dengan kualitas dari sebuah organisasi dalam mengimplementasikan serta menghadapi berbagai perubahan. Organisasi yang memiliki kredibilitas tinggi, akan selalu berusaha melindungi bisnisnya dari ancaman resiko yang negatif dan merusak, begitu pula dengan keberadaan kebijakan serta prosedur ITCM yang memadai.
Secara singkat, ketiga hal di atas (3C) merupakan hal-hal non-teknis yang harus selalu dicermati oleh para IT Manager dalam mengimplementasikan ITCM serta kegiatan lainnya yang mendukung seperti IT Risk Management, Configuration Management dan Release Management.
Subscribe to:
Comments (Atom)
