Kali ini saya ingin sedikit menulis mengenai, mengapa sebuah departemen TI harus berubah. Berubah tentunya untuk menjadi lebih baik, dan karena biasanya departemen TI itu merupakan bagian dari sebuah organisasi yang lebih besar dengan aktivitas utama adalah TI itu sendiri atau non-TI. Maka departemen TI tersebut harus berubah menjadi lebih baik dalam hal memberikan dukungan teknologi terhadap bisnis/aktivitas organisasi atau berubah menjadi mitra bagi organisasi dalam menjalankan bisnis/aktivitas mereka.
Di sini terlihat bahwa peran departemen TI terbentang dari sekedar hanya memberikan dukungan teknis untuk hardware dan software komputasi di sebuah organisasi, hingga menjadi 'business enabler' penting bagi organisasi tempatnya berada. Ambil contoh sebuah usaha rumah makan, di organisasi tersebut jelas bahwa, komputer biasanya digunakan untuk mencatat penjualan, kerusakan pada komputer tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap berjalannya proses bisnis rumah makan. Namun apa yang terjadi jika sistem core-banking sebuah bank nasional terganggu operasional selama 4 jam?
So, back to the topic! Why change? Berikut adalah beberapa hal yang saat ini dialami oleh banyak organisasi TI.
Pertama adalah Change itu sendiri. Permintaan pasar yang berubah, tentunya akan punya pengaruh bisnis yang signikan bagi organisasi, peningkatan permintaan, munculnya diferensiasi, penambahan portofolio bisnis dan lain-lainnya tentunya akan menambah volume operasi bisnis yang diperlukan untuk mendukung operasi. TI sebagai mitra bisnis serta pendukung operasi bisnis organisasi pun mau tak mau harus meningkatkan volume operasinya. Penambahan sumber daya mutlak harus dilakukan, diimplementasikan dan yang terpenting adalah terencana dengan baik, sehingga kualitas layanan TI terhadap bisnis tetap terjaga pada tingkat yang telah disetujui baik antara bisnis dan TI.
Kedua adalah Compliance. Kesesuaian operasi bisnis maupun TI terhadap peraturan-peraturan pemerintah, bursa saham, best-practice dan sebagainya, menuntut departemen TI untuk terus menerus menyesuaikan diri pada sebuah standar operasi yang telah ditentukan.
Ketiga adalah Complexity. Apa hubungan antara perubahan dengan kompleksitas dalam hal ini? Kita semua tahu, bahwa di luar sana ada 1001 vendor teknologi yang menawarkan berbagai macam solusi, baik hardware dan software, belum lagi standar teknologi yang berbeda-beda. Banyak departemen TI yang kemudian secara tidak sadar membeli dan menggunakan teknologi yang tidak kompatible satu dengan yang lainnya hanya demi sebuah alasan yaitu operasional. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah aplikasi, dimana pemilik aplikasi biasanya berbeda departemen, dan perbedaan itu menimbulkan masalah dengan tidak terintegrasinya aplikasi.
Terakhir adalah Cost. Duit, duit dan duit. Apakah budget TI anda setiap tahun meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan bisnis organisasi? Belum tentu. Manajer TI harus pandai dan cerdik dalam memanfaatkan teknologi sesuai dengan budget yang telah ditentukan oleh organisasi, serta memaksimalkan benefitnya.
Keempat hal di atas merupakan sekelumit beban yang menyebabkan banyak departemen TI dituntut untuk terus berubah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment