Wednesday, May 31, 2006

Bisnislah Fokus Dari IT, Bukan Teknologi

Hmm... hari ini ada beberapa artikel dari CIO.com, Computerworld.com dan beberapa lainnya yang mengangkat isu berkaitan dengan apa yang seharusnya jadi fokus pengembangan IT serta skill set yang dibutuhkan dalam membangun kesesuaian antara IT dan bisnis.

Satu hal yang menarik untuk disimpulkan di sini adalah bahwa yang seharusnya menjadi fokus pengembangan IT adalah bisnis itu sendiri, bukan teknologi seperti yang selama ini kita pahami. Bukan pada apakah perusahaan tempat kita bekerja telah memakai teknologi terkini atau belum, tapi justru pada dinamika bisnis dan pasar tempat perusahaan kita berkutat sehari-harinya.

Bisnis sungguh tidak peduli apakah IT telah menggunakan teknologi terbaru atau tidak, atau bahkan masih menggunakan sistem yang sudah 1 dekade umurnya. Selama teknologi itu masih dapat memfasilitasi tercapainya tujuan bisnis, nothing else matters.

Oleh karena itu, dalam memformulasikan rencana pengembangan IT, departemen-departemen bisnis terkait harus juga terlibat untuk menjamin kesesuaian dengan rencana pengembangan bisnis. Dengan kata lain, kepentingan-kepentingan bisnis, seperti visi & misi serta strategi bisnis harus tercermin dalam setiap rencana taktis pengembangan IT.

Begitua pula dengan peran IT Manager maupun CIO, yang semakin lama dipandang semakin kritikal. Dibeberapa tempat, jabatan CIO sering disamakan dengan jabatan Chief Process Officer. Mereka dituntut untuk memahami bisnis secara keseluruhan, dari atas ke bawah, dari sudut ke sudut, dari kanan ke kiri. Mengetahui apa saja permasalah bisnis yang timbul serta dapat memprediksi nya sebelum benar-benar terjadi. Di sinilah peran CIO/IT Manager menjadi penting, karena pengetahuannya serta tuntutan profesinya.

So, again, jadi teringat buku IT Doesn't Matter...

Monday, May 29, 2006

10 Bigget IT Happennings

Ok, hari ini saya mau sedikit ngomonging sejarah, gak jauh-jauh hanya 20 tahun ke belakang. Artikel ini cukup menarik karena menceritakan 10 perkembangan IT terbesar selama 20 tahun terakhir yang memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya dan kehidupan umat manusia.

Artikel lengkapnya ada di link berikut:
http://www.computerworld.com/action/article.do?command=viewArticleBasic&articleId=111366&pageNumber=1

1. Internet Goes Commercial

Well, apa sih yang nggak di-komersial-in sekarang ini, hehe.

2. Monopoly Musical Chairs

Ini dimulai dari dominasi IBM PC awal tahun 80-an yang isinya ada software milik om Bill. Sampai sekarang, meskipun telah diadili bersalah karena menyalahi UU Anti Monopoli, tetep aja, M$ jalan terus!! Lagian sapa juga yang bisa hidup tanpa Windows, banyak yang udah nyoba, tapi ujung2nya juga Windows lagi...

3. Y2K Problem

Isu ini sudah mulai mencuat pada tahun 1984, namun histeria sesungguhnya dimulai pada tahun 1993, meskipun akhirnya hanya dianggap sebagai sebuah mimpi buruk.

4. The New Foreign Face of Outsourcing

Lou Gerstner pada tahun 1993 mengedepankan strategi perubahan IBM yang pada dasarnya adalah untuk menggenjok jasa layanan outsourcing. Saat ini, Outsourcing di bidang IT menjadi primadona, karena memberikan alternatif bagi banyak usaha untuk fokus pada bisnis yang merupakan kompetensi utamanya.

5. The Rise of Personal Computing

PC, laptops, cellphone, PDA dan lain-lainnya, siapa sih sekarang yang tidak memiliki minimal 2 dari alat-alat 'canggih' itu? Ini merupakan salah satu dimensi penting dari pergerakan komputasi dari mainframe, client/server, multitier sytems, grid dan lain sebagainya.

6. Open-source Rides into Data Centers

Siapa sih yang sekarang ini gak kenal sama Linux-Apache-MySQL?? Hebatnya lagi, software-software open-source tersebut didukung penuh oleh beberapa produsen IT seperti IBM, HP, Oracle dan lain-lainnya.

7. Security: From Nuisance to All-Out Assault

Sebelum tahun 1988, Security hanyalah sebuah remah roti, kecil, tak berarti dan selalu dilupakan. Dulu 'kejahatan' berupa penyebaran virus, worm dan sebagainya hanyalah merupakan sebuah pertunjukkan keahlian orang-orang tertentu yang termotivasi murni oleh tujuan pribadi. Saat ini semua itu sudah berubah menjadi sebuah kejahatan terorganisasi dengan uang sebagai motivasi utamanya. Sound dangerous??

8. The Rise of Client/Server Computing

Meskipun sempat menjadi topik yang sangat hangat pada dekade 80 dan 90-an, serta sempat menjadi arsitektur aplikasi yang sangat populer, ternyata arsitektur ini hanyalah sebuah batu loncatan bagi multitier system. Tapi patut dicatat, arsitektur inilah yang membuat banyak perusahaan memutuskan untuk bermigrasi dari arsitektur mainframe.

9. Elusive Software Quality

Yakinkah kita dengan kualitas dari software yang kita beli?? Tidak seperti membeli hardware yang secara fisik dapat kita amati kualitasnya. Tidak demikian dengan software. Sejak awal dekade 80 hingga saat ini, banyak bermunculan metodologi pengembangan software yang 'gagal' dan 'berhasil'. Namun kita semua tahu bahwa yang dapat kita pastikan kualitasnya adalah model dan pengembangan software-nya.

10. The Geeks go to Business School

Istilah-istilah berikut punya dampak besar dari tren ini; "align IT with the business," "think strategically" dan "get a seat at the business (or boardroom) table". Saat ini, IT Manager juga harus melek terhadap bisnis yang di-support-nya.

Monday, May 15, 2006

They hate us!

Seorang konsultan menulis sebuah artikel beberapa hari lalu di sebuah situs IT Service Management. Judulnya: Why do Business Managers Hate IT?

Well, 'benci' begitu katanya. Jika kita ingat-ingat pepatah, 'tak kenal maka tak sayang', maka
ada satu kesimpulan 'jitu' yang sebetulnya bisa kita ambil. Jawaban dari judul artikel tersebut, sebenarnya sederhana, karena mereka, para manajer bisnis, 'tidak kenal' dengan IT.

Beberapa hal berikut menambah parah 'kebencian' ini:

1. IT sinonim dengan pengeluaran; well, produk-produk IT apa sih yang murah??
2. IT juga terlalu terintegrasi dengan berjalannya proses bisnis sehari-hari, akibatnya value
dari IT menjadi 'samar' dan tidak mudah diidentifikasi.
3. Manajer IT, kebanyakan tidak business-savvy, bahkan cenderung kurang mau tau dengan bisnis perusahaannya.
4. dan beberapa alasan lainnya.

So, kembali dengan masalah 'tak kenal maka tak sayang'.

Bayangkan sebuah managerial meeting, dimana seorang procurement manager sedang mempresentasikan laporan kinerja tahunannya. Terbayang bahwa mereka sedang menayangkan angka-angka untuk mewakili keahliannya mereka dalam menegosiasi harga. Sebuah laporan tipikal dari departemen ini biasanya berupa spreadsheet dengan satu kolom berisi angka retail price dan satu kolom lagi di samping berisi angka riil hasil negosiasi mereka. Dan terakhir pada lajur paling akhir, diketik tebal-tebal, saving yang telah mereka hasilkan untuk perusahaan. Ini semua mewakili kontribusi departemen mereka dalam memaksimalkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dan yang lebih penting adalah, semua manajer departemen lainnya tahu dan paham mengenai apa yang mereka kerjakan dan bagaimana impact-nya ke keseluruhan kinerja perusahaan.

Inilah salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh banyak manajer TI. Mereka harus mampu menunjukkan value-nya serta kontribusi-nya dalam bentuk yang terukur dan yang terpenting, dapat dipahami oleh keseluruhan fungsi-fungsi perusahaan.

Well, again, sounds like marketing to me!!

Salah satu cara terbaik untuk mengatasi permasalahan seperti ini adalah mencoba untuk menerapkan konsep-konsep pemasaran dan IT Service Management. Beberapa langkah penting dalam program seperti ini meliputi:

1. Mendefinisikan 'produk' dari IT yang berupa service.
2. Menyusun daftar dari keseluruhan service yang 'ditawarkan' IT kepada keseluruhan
fungsi-fungsi bisnis lainnya.
3. Menyusun Service Level Agreement, tentunya dengan sepengetahuan para manager departemen lainnya, sebagai tolok ukur kualitas dari service yang disediakan oleh IT.
4. Menyusun laporan serta matriks yang berisi impact dari kinerja IT terhadap kinerja
keseluruhan perusahaan.
5. Menyusun program-program peningkatan kualitas yang tentunya melibatkan para manajer
departemen lainnya.

Perlu diketahui, bahwa menyusun program-program pemasaran serta IT Service Management
memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Namun pada gilirannya, IT akan bisa menerima penghargaan maupun value yang lebih tinggi dari perusahaannya, dan yang penting, royek-proyek IT 'besar' lainnya akan lebih mudah mendapat persetujuan.

Well, we all wish it to come true!

Thursday, May 11, 2006

Mau bekerja di Microsoft?

Okay, hari ini saya came across sebuah blog yang menarik. Seorang Software Design Engineer di Microsoft mencoba untuk memberikan perspektif pribadinya mengenai pengalaman kerjanya di Microsoft.

Blog keseluruhan bisa diakses di sini:
http://www.qbrundage.com/michaelb/pubs/essays/working_at_microsoft.html

Secara umum, berikut ringkasannya:

FOKUS
Semua orang yang bekerja di M$ 'tahu' tentang software, bahkan pekerja blue collar pun tahu
tentang software. So, semua staf M$ tahu mengenai misi dan visi perusahaannya. Ini luar biasa!

UNREALITY
M$ menyediakan fasilitas serta dukungan terhadap semua karyawan untuk tetap berada pada tingkat kinerja serta produktivitas. Ini baik, namun hal ini tidak disertai dengan pemahaman bahwa di luar sana, keadaan tidak selalu seperti ini. Begini, produk-produk M$ dibuat dengan
asumsi-asumsi yang kurang realistis. Tidak semua orang punya akses ke internet ber-bandwidth besar, serta tidak semuanya punya uang cukup untuk membeli produk M$. Keistimewaan lingkungan kerja di M$, kemudian membawa stafnya serta produknya menjadi kurang realistis jika dibandingkan dengan kebutuhan serta situasi pengguna serta calon penggunanya.

PERSONAL FREEDOM
Mau masuk kerja siang... mau gak masuk, mau telanjang waktu kerja... well, gak masalah di M$. Asal kerjaan dan target2 elo beres!

COMPANY LEADERSHIP
Bill dan Steve pada umumnya selalu berada yang terdepan, termasuk dalam liputan-liputan media. Tapi perlu diketahui juga, pada kepala divisi M$ ternyata juga orang-orang yang sangat kompeten dalam bidangnya serta memiliki kemampuan leadership yang luar biasa. So, pada aspek ini, M$ is the best!

MANAGERS
Kontras banged dengan para KaDiv. Para manager tingkat menengah kebanyakan tidak memiliki kemampuan leadership yang baik.

BENEFITS/COMPENSATION
Nothing great! Malah banyak terjadi 'pengurangan' di tahun-tahun terakhir ini.

WORK/LIFE BALANCE
It's a software company, and located di Seattle. Di Seattle kebanyakan dihuni oleh orang muda,
serta ambisius yang rata-rata punya masalah dalam bersosialisasi. Tipikal banged dengan orang
TI. Di samping usaha korporasi untuk memperbaiki keseimbangan antara bekerja dengan
berkeluarga, M$ dihadapkan dengan permasalahan bahwa kebanyakan staf nya adalah orang-orang yang punya masalah dengan kehidupan sosialnya.

MICROSOFT IS NOT EVIL
(well folks, you should read the complete blog for this one... no comment!)

INFLUENCE
Mau jadi orang yang penuh percaya diri? well, bekerjalah di M$. Apapun yang dikerjakan oleh
staf M$ setidaknya akan digunakan oleh ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan pengguna.

Well... mau bekerja di M$??

IT Accounting??

Do we really care about this??

Well, masalah administrasi sistem TI sehari-hari saja sudah cukup membuat pusing kepala kita serta mencegah kita untuk bisa pulang ke rumah tepat waktu. Tapi jangan lupa, masih ada hal lain yang bisa membuat kepala kita semakin 'pecah', hahaha!! Apa itu? Apalagi kalau bukan topik dari tulisan ini... IT Accounting.

Mulai dari kata-kata Accounting. Ini terkait erat dengan istilah Accounting Cost yang pada hakekatnya merupakan semua biaya yang memiliki pengaruh terhadap penyusunan General Ledger sebuah perusahaan. Kita semua tahu bahwa biaya yang diperlukan untuk menjamin lancarnya pelayanan TI kepada bisnis semakin meningkat dari tahun ke tahun, akibat adanya penambahan user, penemuan-penemuan teknologi baru serta kompleksitas sistem. Proses perencanaan serta pengendalian biaya-biaya TI juga tidak dilakukan secara komprehensif serta terstruktur di banyak perusahaan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan layanan TI dipandang sebagai sesuatu yang high-cost atau tidak fleksible.

Berikut ini penjelasan secara singkat dan umum mengenai bagaimana membangun sebuah sistem akuntasi dasar yang bisa diterapkan oleh banyak departemen TI untuk mulai mengetahui secara lebih mendalam biaya layanan yang mereka kerjakan sehari-hari dalam mendukung semua kegiatan operasional bisnis.

Untuk dapat memilah-milah, memecah serta mengkategorikan biaya dalam sebuah solusi TI maupun aspek operasionalnya, terlebih dahulu kita harus mengetahui yang namanya Cost Unit, yang adalah sebagai berikut:
1. Hardware costs
2. Software costs
3. People costs
4. Accommodation costs
5. External Service costs (biaya-biaya yang timbul oleh karena satu atau lebih kegiatan operasional TI di-outsource-kan ke pihak luar organisasi)
6. Transfer costs (biaya yang sebenarnya timbul akibat berpindahnya aset dari sebuah bagian organisasi ke bagian lainnya).

Unit-unit di atas kemudian harus dipecah kembali menjadi Cost Elements, misalnya People Cost yang pada umumnya terdiri dari; biaya payroll, overtime staf TI maupun biaya konsultan eksternal. Cost Elements biasanya tersusun dengan sendirinya sesuai dengan karakteristik operasional departemen TI yang bersangkutan. Berikut contoh dari Cost Elements:
1. Hardware costs - Central processing units, LANS, disk storage, peripherals, wide area network, PCs, portables, local servers
2. Software costs - Operating systems, scheduling tools, applications, databases, personal productivity tools, monitoring tools, analysis packages
3. People costs - Payroll costs, benefit cars, re-location costs, expenses, overtime, consultancy
4. Accommodation costs - Offices, storage, secure areas, utilities
5. External Service costs - Security services, Disaster Recovery services, Outsourcing services, HR overhead
6. Transfer costs - Internal charges from other cost centres within the organisation.

Setelah Cost Element disusun dan diidentifikasi, pada umumnya setiap Cost Element akan diklasifikasikan lagi menjadi Capital atau Operational Cost. Capital Cost merupakan biaya yang memiliki pengaruh terhadap keseluruhan nilai dari perusahaan (depresiasi). Biaya-biaya ini mencakup pembelian benda-benda kapital seperti server, software paket, maupun fasilitas gedung untuk sebuah Data Center. Operational Cost merupakan biaya yang diperlukan day-to-day untuk kegiatan operasional sebuah departemen TI, yang misalnya adalah biaya maintenance PC, lisensi software serta akomodasi staf TI.

Terkait dengan layanan TI serta kualitasnya, Cost Element bisa juga diklasifikasikan menjadi Direct atau Indirect Cost. Direct Cost merupakan seluruh biaya yang bisa secara tegas dibebankan kepada satu unit layanan/konsumen tertentu. Misalnya aplikasi keuangan, biaya pembelian lisensi dari aplikasi tersebut jelas-jelas terkait dengan departemen keuangan.

Sedangkan Indirect Cost merupakan biaya pengelolaan TI yang terkait dengan lebih dari satu layanan/konsumen, misalnya aplikasi e-mail korporat, biaya pemeliharaan Data Center dan lain-lainnya. Seperti yang tertulis di atas, kedua biaya ini memiliki peranan besar dalam
menentukan biaya pengelolaan sebuah layanan TI.

Klasifikasi terakhir yang tidak kalah penting adalah Fixed dan Variable Cost. Seperti namanya Fixed Cost merupakan biaya yang tidak berubah meskipun utilisasi berubah-ubah, seperti biaya kontrak pemeliharaan sistem dan biaya sewa gedung Data Center. Variable Cost melibatkan semua biaya yang berubah-ubah sesuai dengan tingkat utilisasinya, misalnya biaya bandwidth jaringan.

Semua biaya di atas penting untuk ditelaah, dengan fokus pada bagaimana sebenarnya menentukan biaya sebuah layanan TI. Dengan mengetahui biaya ini, sebuah perusahaan dapat dengan relatif lebih mudah menentukan nilai sebuah solusi serta kegunaannya melalui perhitungan ROI dan Total Cost of Ownership. Dengan perhitungan ini, pihak manajemen serta departemen TI dapat mencapai sebuah 'kesepakatan' mengenai nilai sebuah calon proyek TI.

So, memang benar... ujung2nya 'bahasa universal' nya adalah uang juga. Hehehe... So, ada baiknya kita orang TI tahu sedikit banyak mengenai proses akunting dan keuangan.

Tuesday, May 02, 2006

Perang Browser: Marketing Rulez!

Pagi ini ada paper (Economic and Technical Drivers of Technology Choice: Browsers) menarik yang saya baca, mengenai perang browser. Artikel ini bercerita mengenai aspek-aspek apa saja yang diperlukan oleh sebuah produk teknologi untuk dapat menguasai pasar, mengalahkan pesaing, menguasai porsi pasar dan menjadi pemimpin pasar. Penyampaiannya menggunakan contoh perang browser di era 90-an hingga kini. Generalisasi yang suprisingly diterima oleh kebanyakan kalangan akademis di Amerika. IE dan Netscape ditulis oleh penulisnya sebagai contoh terbaik mengenai bagaimana pemasaran dan distribusi memiliki peran yang amat sangat signifikan bagi kesuksesan sebuah produk teknologi.

Paper yang ditulis oleh 2 orang professor HBS dan Stanford ini akhirnya mengambil kesimpulan sebagai berikut:

"Looking at both the pace of adoption of new versions of the browsers and the brand choice made by users, distribution played a larger role than did technical progress in determining the market outcomes."

Browser sangat terkait dengan kemajuan teknologi, namun untuk dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sebagai sebuah teknologi standar, diperlukan aspek lain yaitu distribusi serta pemasarannya. Bahkan aspek yang terakhir ini DUA KALI lebih penting dari kemajuan teknologi sebuah produk browser. Hal ini tercermin dari perang antara IE dan Netscape, dimana Microsoft memperkuat aspek pemasaran dan pendistribusian IE beserta sistem operasinya serta menguatnya pemasaran PC selama medio 90-an.

Then what about Firefox??

Well, browser yang sedang naik daun ini setidaknya memerlukan 'keajaiban' untuk benar-benar bisa mengambil alih posisi sebagai pemimpin. Beberapa barrier yang perlu dihadapi oleh Firefox antara lain:
Pertama, browser ini terkenal dan dikenal hanya oleh pengguna tech-savvy, bukan pengguna biasa, yang jelas menjadi sasaran pasar rumah tangga.
Kedua, di kalangan korporat, tidak banyak IT Manager yang mau mengambil resiko dengan mengganti browser standar mereka selain IE. Why? Alasan yang terbesar adalah sebagian besar situs web dirancang dan dioptimalkan untuk dibuka oleh IE.
Ketiga, butuh aspek inovasi yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh Microsoft dengan IE-nya atau perlu sederet masalah yang luar biasa yang dialami IE.
Keempat, dan yang terpenting adalah WEBMASTER. Merekalah barrier utama Firefox untuk dapat mengambil porsi pasar yang lebih besar.

Informasi ini menarik, karena apa? Karena ternyata kita sebagai techie, akhirnya harus mengakui betapa besarnya andil serta penghargaan kepada para marketer dalam sebuah organisasi. Well, this paper proves it all.